\"\"Saling mencintai karena Allah, rasanya sulit ditemukan dizaman sekarang, kebanyakan persahabatan seseorang itu hanya dilandaskan karena adanya kepentingan dunia (diawal terjalin hubungan dengan indah tapi berakhir dengan kekecewaan). Jika kita mencoba mengindra fakta di sekelililng kita, banyak di antara mereka yang saling mencintai dikarenakan faktor fisik, misalkan mencintai karena ketampanan atau kecantikannya. Ada juga yang saling mencintai karena faktor materi seperti kekayaan atau ketenaran. Selain itu, ada juga yang saling mencintai dikarenakan sedang memiliki kepentingan yang sama, di mana kepentingan tersebut mampu melahirkan manfaat bagi mereka. Perasaan berdasarkan alasan seperti yang dicontohkan di atas, merupakan perasaan cinta yang semu, berbeda dengan halnya orang yang saling mencintai karena Allah.

Yuk, kita berbicara kembali tentang mencintai karena Allah, khawatir ada yang salah dalam diri kita ketika berbicara tentang mencintai karena Allah.

Berikut dasar seorang muslim ingin saling mencintai karena Allah

  1. Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaklah dia memberitahu saudaranya itu bahwa dia mencintainya.” (HR. Bukhari)
  2. Tidaklah beriman seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari)
  3. Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (yaitu) pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabb-Nya, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah”. (HR Bukhari).
  4. “Sesunguhnya kelak di hari kiamat Allah akan berfirman, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku,”(HR. Muslim).
  5.  “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang ia akan mendapatkan manisnya iman yaitu orang yang mencintai seseorang namun tidak mencintainya kecuali karena Allah, orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, dan orang yang lebih cinta dimasukkan ke dalam neraka daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya.” (HR. Muslim)
  6. “Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR.At Tirmidzi)
  7. “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi,

Inilah ajaran Islam yang mengajarkan untuk saling mencintai. Ketika kita mencintai saudara kita karena Allah, maka ungkapkanlah cinta tersebut dengan mengatakan, “Inni uhibbuk” atau “Inni uhibbuk fillah”. Lalu ketika saudaranya mendengar, maka balaslah dengan mengucapkan “ahabbakallahu alladzi ahbabtani lahu” (Semoga Allah yang membuatmu mencintaiku turut mencintaimu).

Hadis di atas menunjukkan bahwa keimanan seseorang dapat dikatakan sempurna apabila ia bisa mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, sepanjang dalam hal kebaikan. Saudara yang dimaksud disini tidak terbatas hanya saudara kandung, saudara seayah atau seibu, akan tetapi lebih luas lagi mencakup saudara sesama manusia.

Hadis di atas menjadi semacam batasan untuk kita semua agar kadar cinta yang kita berikan kepada manusia tidak melebihi kadar cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mengapa demikian?

Berlebihan mencintai manusia membuat manusia lalai karena hakikat mencintai adalah berusaha memberi yang terbaik kepada yang dicintai bahkan terkadang mampu mengorbankan apapun demi orang yang dicintai. Sehingga ketika menempatkan Allah dan Rasul-Nya di tingkatan teratas, kita akan mendahulukan ketaatan akan segala syariat yang Allah tetapkan dan meneladani setiap sunnah yang Nabi kerjakan. 

Berikut ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menguatkan cinta karena Allah, antara lain:

  1. Mengabarkan kepada orang yang dicintai bahwa kita mencintainya karena Allah

Sebagaimana disebutkan dalam hadis “Apabila salah seorang dari kalian mencintai saudaranya, hendaklah dia mengutarakan kepadanya.” (HR. Bukhari)

  1. Menebar salam

Nabi Muhammad bersabda “maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kalian melakukannya niscaya kalian akan saling cinta? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

  1. Saling memberi hadiah

“Saling beri hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)

  1. Memelihara ziarah

Nabi bersabda “Berkunjunglah secara berkala, niscaya kamu akan bertambah cinta.” (HR.Thabrani dan Baihaqi)

  1. Saling antusias terhadap ketaatan dan meninggalkan maksiat

“Tidaklah dua orang saling mencintai lalu terpisah antara keduanya melainkan pasti disebabkan dosa yang diperbuat salah satu dari mereka.” (HR. Al-Bukhari)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan (ghibah) sebagian yang lain,sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentunya kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat:12)

Justru dalam bersahabat kita dilarang bertengkar apalagi bercerai berai :

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.“(Qs. Ali Imran: 103)

Kesimpulan :

mari kita jaga perasaan saling mencintai karena Allah ini dengan dengan sifat Qana\’ah agar kita tidak menyakiti atau mudah tersakiti oleh kepentingan dunia, dan berbahagialah orang-orang yang senantiasa menyebarkan kebaikan dan kerukunan sementara di dalam hatinya tertanam kuat kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ciri-ciri Mencintai Seseorang Karena Allah

1. Mengutamakan ridho Allah Swt

 “Barangsiapa memurkakan (membuat marah) Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa meridhokan Allah (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhoinya dan meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya, sehingga Allah memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandangan-Nya.” (HR. Ath-Thabrani).

2. Cintanya tulus dan murni

Perasaan yang tulus akan membawa seseorang pada kemurnian cinta. Ia tidak lagi melihat faktor fisik, misalkan mencintai karena ketampanan atau kecantikannya, saling mencintai karena faktor materi seperti kekayaan atau ketenaran, atau saling mencintai dikarenakan sedang memiliki kepentingan yang sama,

\”Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, \”Siapa mereka itu?\”, \”Mereka itu adalah orang-orang yang mencintaikarena Allah \’Azzawajalla.\”  (HR. Ahmad)

3. Mencintai kebenaran dan kedamaian

Ketika mencintai seseorang karena Allah, tentu ia akan senantiasa membawanya pada jalan kebenaran dan kedamaian

4. Mengutamakan Allah dalam cintanya

Dalam mencintai seseorang karena Allah, ia akan mengutamakan Allah dalam setiap tindakannya. Misalnya, seorang ayah lebih mengutamakan mencari nafkah yang halal walaupun sedikit. Ini karena si ayah tahu bahwa mencari nafkah yang halal adalah perintah Allah, sedangkan mencari nafkah yang haram adalah larangan-Nya.

Cara Saling Mencintai Karena Allah Berdasarkan Al-Quran & As.Sunnah

  1. meluruskan niat. Agar cinta berbuah ibadah, sucikan niat dalam bercinta karena Allah SWT semata. “Segala amal itu tergantung niatnya dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya itu kepada Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” (Muttafaq alaih).
  2. mencintai secara proporsional. “…. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqarah [2]: 216).

Nabi SAW pernah berpesan, “Cintailah kekasihmu sekadarnya saja, karena boleh jadi suatu hari nanti dia akan menjadi sesuatu yang engkau benci; dan bencilah sesuatu yang tidak engkau sukai sekadarnya saja, karena boleh jadi suatu hari nanti dia akan menjadi sesuatu yang engkau cintai.” (HR Bukhari).

Dengan demikian, jika cinta terawat dengan baik, kesucian cinta seseorang akan tetap terjaga sehingga ia terbebas dari kungkungan cinta yang menyengsarakan. 

 

\"\"

mabrur

test

\"\"
Scroll to Top